Wednesday, September 3, 2014

Tumis Kangkung

Mulai 1 September 2014, saya pindah ke kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Dan inilah pengalaman pertama memasak disini. Ini juga pengalaman pertama belanja sendiri ke pasar. Hehehe...

Bahan :
  • 1 ikat kangkung
  • 8 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • Laos (kira-kira 2 cm)
  • Kecap
  • Garam

Cara Membuat:

Potong-potong kangkung kemudian cuci hingga bersih.


Bawang putih, bawang merah, bawang putih dan laos diiris-iris kemudian di tumis.

 

Masukkan kangkung, tunggu hingga layu sambil diaduk-aduk.


Tambahkan kecap dan garam secukupnya.




Tuesday, July 1, 2014

Ayam Goreng Bumbu Kuning


Bumbu ayam goreng


Alhamdulillah, kemarin belajar satu masakan lagi dari ibu, catet dulu aha, biar nggak ilang.

Bahan :
Daging ayam 3/4 kg
Santan
7 butir Bawang merah
3 butir Bawang putih
3 lembar daun jeruk
3 butir kemiri
merica bubuk, ketumbar bubuk, laos, kunyit
garam secukupnya


Cara membuat:

1. Rebus daging ayam.
2. Haluskan semua bumbu (yang terdapat di gambar diatas), kecuali daun jeruk.
3. Campurkan bumbu dan daging ayam yang telah direbus.


4. Rebus kembali, sambil tambahkan santan ke dalamnya.



5. Rebus hingga airnya habis.
6. Kemudian goreng daging ayam hingga berwarna kekuningan.



7. Ayam goreng siap dinikmati.

Friday, December 6, 2013

Jalan Jalan Menyusuri Abad ke 8 Masehi

Menurut sejarah, dahulu di wilayah Indonesia terdapat banyak kerajaan. Tak heran, di Indonesia banyak ditemukan situs-situs bangunan kuno peninggalan kerajaan maupun candi. Salah satu yang saya kunjungi dua minggu yang lalu adalah situs arkeologi berupa Keraton Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-8, yang dikenal dengan nama Keraton Ratu Boko. Peninggalan sejarah ini terletak dekat dengan candi Prambanan, tepatnya di Jalan Raya Prambanan - Piyungan KM. 2, Yogyakarta.


Dari prasasti yang dikeluakan oleh Rakai Panangkaran tahun 746-784 M, kawasan situs Ratu Boko disebut Abhayagiri Wihara yang berarti asrama para Bhiksu yang terletak di atas bukit penuh kedamaian. Sedangkan nama Ratu Boko berasal dari cerita rakyat.

Untuk masuk ke kawasan ini, pengunjung harus membeli tiket tanda masuk sebesar Rp 25.000,-/orang. Memasuki kawasan ini, saya serasa memasuki lorong waktu ke abad 8 Masehi. Dua buah pintu gapura besar yang terbuat dari batuan andesit menyambut kami. Gapura pertama memiliki tiga pintu, sedangkan gapura kedua memiliki lima pintu. Setelah melalui gapura ini, terdapat lapangan rumput yang sangat luas. Di dalam area ini, terdapat banyak bangunan-bangunan yang tersusun dari batuan berbentuk persegi, seperti candi pembakaran, kolam pemandian kuno, gua, pedopo dan sebagainya.

Gapura


Lapangan rumput

bangunan-bangunan di dalam kawasan Ratu Boko

pendopo

Panorama di kawasan ini juga sangat indah. Pengunjung dapat melihat pemandangan candi Prambanan dan gunung Merapi. Konon, pemandangan sunset di tempat ini disebut-sebut sebagai pemandangan sunset terindah se-Asia Tenggara. Namun, sayangnya saya tak sempat melihat keindahan sunset di tempat ini karena saya harus buru-buru pulang sebelum matahari terbenam.

Dari segi fasilitas, menurut saya kawasan ini sudah cukup memadai. Terdapat fasilitas toilet, mushola,papan petunjuk, dan penataan kawasan ini cukup baik. Disini juga terdapat sebuah restoran, dimana pengunjung dapat makan sambil melihat pemandangan yang indah.